“Leadership akan menjadi sumber daya yang paling penting yang dimiliki sebuah organisasi, karena dengan leadership yang baik, organisasi dapat menentukan bagaimana memanfaatkan peluang yang timbul dan mengatasi potensi bencana yang mengancam”  Jay A. Conger- Professor, London Business School.

Leadership adalah sebuah topik yang tiada habisnya dibahas dalam lingkungan kita, dari sekolah, universitas, komunitas hingga di perusahaan. Saya sudah mengikuti pelatihan atau pendidikan leadership sewaktu saya masih belajar di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Bahkan lebih jauh lagi, secara tidak kita sadari, kegiatan ekstra kurikuler seperti Pramuka yang diwajibkan di hampir semua sekolah dasar (SD) adalah juga tentang kepemimpian. Luar biasa, bukan?

Jika kita bicara akan ‘begawan’  atau ‘pakar’ kepemimpinan mungkin akan sangat panjang daftarnya, dari Stephen Covey, Dale Carnagie, Norman Vincent Peale, Jack Welch, hingga Jack Ma. Begitu banyak buku yang sangat bagus dan inspiratif kita kita ingin mengetahui lebih dalam mengenai leadership. Dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, teori leadership pun berkembang, hingga yang terakhir ramai dibicarakan adalah bagaimana kepemimpinan di tengah-tengah generasi Milenialls. 
Begitu akrabnya kita dengan ilmu kepemimpinan tetapi uniknya, hal ini bisa menjadi issue yang sangat besar didalam kehidupan professional kita sehari-hari. Di dalam dunia karir ataupun bisnis.

Dari beberapa buku tentang leadership yang pernah saya baca, ada seorang pengarang yang tulisannya cukup menarik, yaitu John C Maxwell. Sudah sekian banyak buku yang pernah diterbitkan, (Maxwell menerbitkan 70 judul, berjumlah lebih dari 25 juta buku, dalam 50 bahasa) hampir semua nya menarik. Salah satu yang paling sederhana dan impactful buat saya adalah buku 5 level of leadership.

Beberapa tahun lalu, pada tanggal 22 Juli 2016, tidak disangka-sangka, John C Maxwell datang ke Indonesia untuk mengadakan seminar sehari di Auditorium sebuah Mal di daerah Kuningan Jakarta. Di sana, Maxwell memberikan 3 sesi seminar yaitu 5 level of leadership, Intentional Living dan Laws of Growth. Saya akan sharing tentang topik yang pertama, yaitu 5 level of leadership.

Maxwell pada dasarnya adalah storyteller yang handal. Beliau banyak bercerita mengenai contoh-contoh kepemimpinan dalam kehidupan sehari-hari sebagai seorang kakek yang memiliki cucu-cucu yang lucu. Bukan hanya melontarkan joke-joke yang lucu layaknya stand up comedian bahkan beliau tidak segan-segan memperagakan beberapa gaya dengan mimik wajah yang sangat lucu pula. “You know back there in my country there is a popular song so absurd, called I believe I can Fly” dan  beliau bernyanyi dan memperagakan bagaimana tubuh tambun nya mengepakkan kedua tangan untuk berusaha terbang. Hilarious!

Dalam topik 5 level of leadership, dibuka dengan level pertama. Lagi-lagi beliau memperagakan sosok karyawan yang setiap jam pulang kantor bergegas atau bersiap-siap lari untuk pulang dari tempat kerja. Bahkan beliau juga memperagakan seorang karyawan yang setengah jam lagi waktu kerja berakhir malah berlama-lama di dalam toilet. Contoh dari gambaran karyawan tersebut adalah cara Maxwell menggambarkan bahwa komitmen adalah sesuatu yang sangat berharga.

Level 1
Di level ini seseorang menjadi pemimpin karena surat keputusan (SK) / surat pengangkatan atau ketika seseorang dilantik atau diangkat oleh manajemen. Di level pertama ini kita menjabat sesuatu jabatan dan umumnya lengkap dengan staf atau subordinat / anggota tim. Mereka yang menjabat mendapatkan hak untuk memimpin. Subordinate atau anggota tim mengikuti perintah para pemimpin karena mereka diharuskan seperti itu. Pertanyaannya adalah apakah dengan kita menjabat menjadi pemimpin secara otomatis para bawahan secara ikhlas dan tulus dapat menuruti semua yang kita arahkan? Ternyata tidak, karena di level 1 ini para bawahan masih melihat bahwa atasannya adalah atasan karena status. Jadi bukan karena dia patut patut didukung.

Pada level ini karyawan bekerja berdasarkan formalitas semata bahkan kalau perlu mereka akan berfokus kepada haknya saja. Komitmen sangat sedikit dari para bawahan atau anggota tim. Energi yang diberikan dan waktu yang disediakan juga sangat sedikit. Upaya anggota tim dalam menyelesaikan pekerjaan sangat kecil. Misalnya saja mereka menuntut hak untuk pulang lebih cepat atau on time pada saat jam kerja baru saja selesai atau mereka akan berhitung jika atasannya meminta bantuan. Jadi belum ada ikatan atau kedekatan antara atasan dan bawahan.

Lalu, apakah di level ini kita dapat membangun sesuatu? Tentu tidak. Kita harus naik menuju ke level 2. Di level 1 adalah  “Good level to start, but bad level to stay”

Level 2
Di level kedua, intinya adalah ‘Izin’. Para pemimpin lebih menekankan kepada ‘relationship’. Mereka dapat mengambil hati para anggota tim. Mereka mengikuti para pemimpin nya karena mereka tidak merasa terpaksa (diharuskan, seperti di level 1). Anggota tim mengikuti pemimpin karena mereka memiliki ‘keinginan’ dan menyukai para pemimpinnya. Mereka suka berada di dalam tim. Mereka ‘mengizinkan’ dirinya untuk dipimpin (suka rela dan ikhals). Angggota tim dapat membedakan arti “Work for me” dengan “Work with me”. Para pemimpin pun sangat percaya kepada bawahannya. Pemimpin peduli dengan anggota tim, suka berada di antara mereka secara tulus, dan ‘enjoy’ the people.

Di level 2 ini, pemimpin belajar untuk:
1.    Listen very well. Pemimpin dituntut menjadi pendengar yang baik. Mereka mengerti akan ‘leadership clues’
2.    Observe well. Pemimpin dituntut menjadi pengamat yang baik. Visi adalah apa yang dikatakan orang, tetapi budaya adalah apa yang dilakukan orang. Perilaku pemimpin menjadi penting, karena akan berpotensi membentuk budaya.
3.    Serve well. Di tahap ini, pemimpin dibentuk menjadi ‘Servant leader’ atau ‘Pemimpin yang melayani’.  Kata-kata yang sering dilontarkan adalah “Yuk, kita kerjakan bersama-sama”. ‘Take people with you’. Di sini Maxwell bercerita mengenai situasi ‘Lonely at the top’. Bagaimana seorang executive yang kesepian
Great! But, now what? Sekarang waktunya untuk melangkah ke level berikutnya. 

Level 3
Level ketiga adalah tentang ‘Produksi’. Para pemimpin harus berproduksi, berkarya, menghasilkan sesuatu yang dapat dibanggakan. Pemimpin harus berprestasi. Maxwell bercerita bagaimana ketika kita mendapatkan kesempatan memilih tim dalam sebuah lomba basket. “Ingin ikut saya, atau tim nya Michael Jordan?” Tentu saja kalian akan memilih untuk ikut dalam tim nya Michael Jordan, mengapa? Karena kesempatan menang nya lebih besar! Anda bisa bayangkan dengan tubuh saya yang tambun seperti saya ini, yang untuk berlari pun susah, menjadi pemimpin dalam sebuah tim basket?” Ujarnya dengan penuh humor.  Intinya adalah, anggota tim akan senang untuk mengikuti pemimpin yang sukses, mengapa? Karena mereka ingin ikut sukses. Orang akan mengikuti kita karena kita hebat. Orang hebat akan menarik orang hebat, ini adalah “Law of Magnetism”.

Di level 3 pemimpin harus
1.    “Lead by example”. Orang-orang akan melakukan apa yang mereka lihat (tiru). Leadership adalah Visual, ujar Maxwell. “Follow me, watch me”. “Do to people, not say to people”. Pemimpin adalah ‘tour guide’, bukan Travel Agents. “Anda tahu beda nya? Travel Agents hanya memberikan petunjuk, ke kota mana kita akan pergi, di hotel mana kita menginap, dan lain-lain. Tour Guide, mengantarkan para tamu ke tempat-tempat tersebut. Menunjukkan secara visual, mempraktekkan, memberi pengalaman yang berbeda”.
2.    “Understanding the power of momentum”. Maxwell mencontohkan sebuah lokomotif yang meluncur cepat. Tembok beton yang tebal pun akan roboh ketika ditabrak oleh benda yang memiliki masa atau bobot yang besar. Tetapi jika Lokomotif itu lambat atau bahkan berhenti, tidak mungkin akan merobohkan tembok yang besar. Tembok di sini adalah perumpamaan dari rintangan atau kendala kita dalam pekerjaan untuk menuju sukses. Jika kita memiliki tim yang solid dan kuat (seperti lokomotif yang berlari cepat), maka kita mendapat sebuah momentum. Kendala sebesar apapun pasti bisa dirobohkan. 

Level 4
Level berikutnya adalah level 4, yaitu tentang “People Development”. Pemimpin itu mereproduksi. Orang-orang akan mengikuti kita karena apa yang telah kita lakukan terhadapnya. Pemimpin harus banyak melakukan mentoring dan developing. “You change their live” ujar Maxwell. “You multiply”.

Di level keempat ini, pemimpin harus
1.    Recruit very well. Kita harus mengerti, untuk mendapatkan orang yang bagus, kita harus melakukan ‘recruitment’ yang bagus. Pemimpin  harus memiliki gambaran jelas apa yang diinginkan oleh para anggota tim.
2.    Position people very well. Tempatkanlah orang-orang dengan baik
3.    Equip very well. Menggunakan sumber daya manusia dengan baik.
Ada 5 hal untuk ‘equip people’
a.    I do it. Artinya adalah kita mampu melakukannya atau ‘able to do it’. Jangan memanfaatkan orang untuk sesuatu hal yang tidak kita kerjakan dengan baik.
b.     You do it with me. Ini adalah ‘time commitment’ bagi pemimpin.
c.    Do it with them. Ini adalah bentuk ‘coaching’.  “Stay with them until they do good”
d.    You do it. “Go.. you’re on your own”
e.    “You do it and compounding / multiplying. You do it with someone else with you”.

Level 5
Yang terakhir adalah level 5, yaitu ‘Pinnacle”. Level ini adalah tentang rasa ‘Respect’. Orang-orang mengikuti pemimpin karena siapa mereka, dan apa yang pemimpin representasikan. Di level ini adalah level tentang pemimpin yang berkharisma.
Dalam akhir sesi, Maxwell berkata, “Leadership is the led of the business. The more you lead, the more you succeed”. Mari kita kembangkan terus kemampuan memimpin kita. Dengan ulasan sederhana dari seminar John C Maxwell ini dapat menginspirasi kita dalam kegiatan sehari-hari menggerakkan roda bisnis.