Pada minggu terakhir di bulan Ramadan, setelah melaksanakan upacara Hari Lahir Pancasila di kantor, saya mengajak beberapa staf untuk menemani saya berbelanja batik di sentra batik paling terkenal di Jakarta, Thamrin City. Alasan saya mengajak mereka ke sana adalah karena saya ingin memberikan busana muslim dan batik kepada staf untuk Hari Raya. Alasan lain adalah istri saya dan teman kerjanya juga sedang berada di sana berbelanja batik. Jadi saya selain berbelanja, sekalian menjemput istri.

Karena sudah memasuki minggu ketiga di bulan Ramadhan, pengunjung sangat banyak, belum lagi di perjalanan dari kantor di seputaran kemayoran menuju Thamrin City memakan waktu cukup lama, 2 jam lebih, hampir sama dengan waktu yang ditempuh untuk perjalanan dari Jakarta ke Bandung. Kondisi ini diperburuk dengan dialihkannya lalulintas di Bundaran Hotel Indonesia karena ada pembangunan MRT.

Saya memarkir kendaraan saya di Grand Indonesia, karena sudah tidak sanggup lagi untuk menuju lokasi. Dari sana kami berjalan kaki menuju Thamrin City.  Sesampainya di Thamrin City saya langsung menghubungi istri saya di telpon untuk menanyakan posisinya dan kami langsung menuju ke lantai dasar.
 
Sebenarnya saya memiliki beberapa kenalan yang berprofesi berjualan batik di Thamrin City yang bisa saya hubungi, tetapi berhubung kondisi di dalam gedung sangat padat oleh pengunjung, effort untuk mencari tokonya adalah sebuah perjuangan tersendiri. Di area batik, semua toko hampir mirip sehingga jika kita ingin membeli batik di toko tertentu yang kita lewati, sangat sulit untuk kembali lagi.

Bagi yang belum pernah atau jarang ke sini, risiko tersesat cukup tinggi apalagi direktori di gedung tersebut kurang jelas dan tidak ada security officer atau jarang sekali yang standby untuk membantu. Dan ketika saya menelpon istri untuk menanyakan posisi meeting point, kami bersepakat untuk bertemu di rumah makan tertentu (karena jika kita memilih lobby pun, tidak jelas lobby yang mana). Ini baru di area batik, di area busana muslim keadaannya lebih padat lagi sehingga terbayang bagaimana sesaknya para pengunjung berlalu lalang.

Tantangan seperti ini hampir mirip seperti kita berada dalam pekerjaan sehari-hari di unit kerja. Yang dapat dipelajari dalam kondisi ini adalah kita membutuhkan seperangkat keterampilan atau kompetensi dalam mencapai tujuan. Dalam kasus di atas, kompetensi yang dibutuhkan adalah 
1.    Information seeking (INFO). Kompetensi ini sangat dibutuhkan karena sebenarnya saya bisa mencari informasi terlebih dahulu bagaimana situasi dan kondisi lalu lintas dan lokasi berbelanja. Saya bisa menggunakan teknologi di gadget saya untuk memonitor kepadatan lalulintas, saya bisa browsing di internet toko yang menjual produk best seller, saya bisa mencari harga yang terjangkau bahkan saya bisa mengantisipasi situasi karena tiga minggu menjelang hari raya adalah saat yang kurang nyaman untuk berbelanja di sana.
2.    Achievement Drive (ACH). Dengan tujuan untuk dapat membeli batik yang bagus dan bertemu dengan istri saya, saya harus memiliki dorongan untuk mencapai tujuan yang tinggi. Jika semangat saya turun hanya karena ketidaknyamanan yang disebabkan padatnya lalulintas dan banyaknya pengunjung, tentunya saya tidak akan sampai pada tujuan
3.    Initiative, (INT). Saya berinisiatif untuk memarkir kendaraan di Grand Indonesia agar tidak membuang waktu terlalu banyak untuk sampai ke lokasi, dan lebih mudah untuk keluar.  
4.    Relationship building, (RB) Saya memiliki beberapa teman yang memiliki kios atau outlet yang menjual batik. Teman sekerja saya pun ada yang memiiki usaha di sini. Saya juga meminta referensi dari teman, mengenai toko yang paling direkomendasi dan mambangun hubungan dengan penjual. Jika ada produk baru, penjual bisa menawarkannya terlebih dahulu ke kita dengan harga yang pantas. 
5.    Teamwork, (TW). Dengan merasa bagian dari tim, kami dapat menyusuri tempat berbelanja tanpa terpencar. Kami juga saling bekerjasama dalam memilih busana yang bagus.
Di tahun 1993, Spencer & spencer menulis mengenai 20 kompetensi generic yang dibutuhkan dalam pekerjaan. Kompetensi generic tersebut seringkali menjadi acuan bagi perusahaan dalam menseleksi calon karyawan (rekrutmen) ataupun dalam melakukan assesment kepada para karyawan yang ingin dipromosi. Adapun 20 kompetensi tersebut secara lengkap adalah :
1.    Achievement orientation, (ACH) [Kompetensi semangat untuk berprestasi atau untuk mencapai target kerja] yaitu tingkat kepedulian karyawan terhadap pekerjaannya sehingga ia terdorong berusaha untuk bekerja dengan lebih baik atau di atas standar
2.    Concern for order, (CO),  yaitu dorongan dalam diri karyawan untuk memastikan / mengurangi ketidakpastian khususnya berkaitan dengan penugasan, kualitas dan ketepatan / ketelitian data dan informasi di tempat kerja
3.    Initiative, (INT), yaitu dorongan bertindak untuk melebihi yang dibutuhkan atau yang dituntut oleh pekerjaan. Melakukan sesuatu tanpa menunggu perintah lebih dahulu untuk memperbaiki atau meningkatkan hasil pekerjaan atau menghindari timbulnya masalah atau menciptakan peluang baru juga termasuk ke dalam INT
4.    Information seeking, (INFO) , yaitu upaya untuk mengumpulkan informasi lebih banyak sehubungan dengan pelaksanaan pekerjaan dan pengambilan keputusan
5.    Interpersonal understanding, (IU), yaitu kemampuan untuk memahami hal hal yang tidak diungkapkan dengan perkataan, kemampuan akan pemahaman perasaan , keinginan atau pemikiran dari orang lain.
6.    Customer service orientation, (CSO) , yaitu Keinginan untuk membantu atau melayani pelanggan / orang lain.
7.    Impact and influence, (IMP), yaitu tindakan, membujuk, meyakinkan mempengarui orang lain sehingga mau mendukung rencana kita.
8.    Organizational awareness, (OA), yaitu kemampuan karyawan dalam memahami dan mempelajari kekuasaan dalam organisasi sendiri maupun organisasi lain (pelanggan, penyalur, dll.). Kemampuan untuk mengidentifikasi siapa pengambil keputusan yang sebenarnya dan individu yang memiliki pengaruh kuat juga termasuk ke dalam kompetensi ini.
9.    Relationship building, (RB), yaitu kompentensi yang meliputi besarnya usaha untuk menjalin dan membina hubungan sosial atau jaringan hubungan sosial agar tetap hangat dan akrab.
10.    Developing others, (DEV), yaitu keinginan untuk mengajarkan atau mendorong pengembangan atau proses belajar orang lain.
11.    Directiveness, (DIR), yaitu kemampuan memerintah dan mengarahkan orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai posisi dan kewenangannya.
12.    Teamwork, (TW), yaitu dorongan atau kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain; dorongan atau kemampuan untuk menjadi bagian dari suatu kelompok dalam melaksanakan suatu tugas.
13.    Team Leadership, (TL) , yaitu dorongan dan kemauan untuk berperan sebagai pemimpin kelompok, biasanya ditunjukan dalam posisi ortoritas formal.
14.    Analitical thinking, (AT), yaitu kemampuan untuk memahami situasi dengan cara memecahkannya menjadi bagian-bagian yang lebih rinci.
15.    Conceptual thinking, (CT), yaitu kemampuan memahami situasi atau masalah dengan cara memandangnya sebagai satu kesatuan yang mencakup kemampuan mengidentifikasi pola keterkaitan antara masalah yang tidak tampak dengan jelas atau kemampuan mengidentifikasi permasalahan yang utama yang mendasar dalam situasi yang kompleks.
16.    Expertise, (EXP) , yaitu penguasaan bidang pengetahuan yang terkait dengan pekerjaan dan motivasi untuk menggunakan , mengembangkan dan membagikan pengetahuan yang terkait dengan pekerjaan kepada orang lain.
17.    Self-control, (SCT), yaitu kemampuan untuk mengendalikan diri sehingga mencegah untuk melakukan tindakan-tindakan yang negatif, khususnya menghadapi tantangan atau penolakan dari orang lain atau pada saat bekerja dibawah tekanan.
18.    Self-confidence, (SCF), yaitu keyakinan seorang karyawan pada kemampuan diri sendiri untuk/menyelesaikan suatu tugas / tantangan / pekerjannya.
19.    Flexibility, (FLX), yaitu kemampuan untuk menyesuaikan diri dan bekerja secara efektif pada berbagai rekan atau kelompok yang berbeda; kemampuan untuk memahami dan menghargai perbedaan , pandangan dan pertentangan atas suatu isu
20.    Organizational commitement, (OC), yaitu dorongan dan kemampuan karyawan untuk menyesuaikan perilakunya dengan kebutuhan, prioritas dan tujuan perusahaan, untuk bertindak dengan cara yang menunjang tujuan perusahaan atau memenuhi kebutuhan perusahaan

Memang cukup banyak definisi kompetensi di atas, tetapi tidak semua jenis dibutuhkan dalam posisi tertentu atau perusahaan tertentu. To win this game (career), we must know our potential dan mendapatkan kompetensi yang dibutuhkan. Demikian tulisan saya mengenai 20 kompetensi dari Spencer yang sering digunakan dalam rekrutmen ataupun assessment karyawan . Ayo kita selalu berusaha untuk meningkatkan diri, dengan banyak membaca buku, mengikuti pelatihan atau seminar dan lain-lain