Sejak kecil kita sudah familiar dengan reward dan punishment.  Misalnya saja seorang siswa sekolah yang tidak membuat tugas atau Pekerjaan Rumah akan dihukum di depan kelas dan bagi siswa yang dapat mengerjakannya dengan baik akan dipuji dan dianggap siswa teladan. Begitu pula saat pembagian rapor, biasanya siswa yang berprestasi akan diberikan hadiah oleh orang tua nya dan siswa yang tidak berprestasi akan diberikan hukuman dengan mengurangi uang saku atau waktu bermain nya agar lebih giat belajar. Pada umumnya orang menganggap Reward dan punishment merupakan dua bentuk metode yang popular dalam menumbuhkan motivasi seseorang untuk melakukan suatu hal yang positif. Secara konsep, penerapan hukuman bagi yang tidak mematuhi atau mengikuti aturan dan memberikan imbalan pada orang yang mematuhi aturan, idealnya sangat efektif. Begitu pula di perusahaan. Bagaimana mengubah perilaku atau sikap para karyawan di perusahaan, reward and punishment menjadi issue utama.
Tetapi jika kita kaji lebih dalam, jika hanya mengandalkan reward dan punishment  maka hasilnya tidak cukup efektif, karena menurut model yang ada di dalam buku "Influencer: The Power to Change Anything" yang ditulis oleh Patterson, Grenny, Maxfield, dan McMillan ada beberapa faktor lain yang dapat menghasilkan perubahan.

Ada 6 faktor source of influence, yaitu
1. Motivasi personal , yaitu tentang bagaimana kita dapat mengatasi keengganan dan resistensi;
2. Kemampuan personal, yaitu tentang bagaimana kita dapat menguasai ketrampilan yang dibutuhkan;
3. Motivasi social, yaitu tentang bagaimana kita bisa mendapatkan dukungan orang lain;
4. Kemampuan social, yaitu tentang bagaimana kita dapat bekerja dalam tim;
5. Motivasi struktural, yaitu tentang bagaimana kita dapat memberikan penghargaan kepada yang berkinerja baik;
6. Kemampuan struktural , yaitu tentang bagaimana kita bisa dikelilingi lingkungan fisik yang mendukung.

Souce of influence yang pertama adalah motivasi. Motivasi adalah hal yang paling utama dalam merubah perilaku jika adanya motivasi dari dalam diri yang kuat, maka akan mudah bagi perusahaan untuk dapat membimbing atau membawa karyawan kepada perilaku baru yang diinginkan. Karyawan perlu diberikan pengertian yang jelas mengapa dia harus berubah,  jika tidak jelas maka di pikiran bawah sadar mereka akan menolak (resistensi) atau merasa enggan untuk berubah.

Ada seorang karyawan yang sudah memiliki motivasi tinggi yang ingin membuat suatu proses bisnis menjadi efisien. Tetapi ketika ingin melakukan, karyawan tersebut merasa kebingungan untuk memulai dari mana.  Contoh lain ada karyawan yang sudah termotivasi untuk mencapai prestasi dalam bidang penjualan, tetapi jika selling skill nya pas-pasan maka tujuan tersebut akan sulit untuk dicapai.  Motivasi yang tinggi jika tidak didukung oleh kemampuan atau ability yang memadai, maka upaya perubahan akan percuma. Maka dari itu, perusahaan juga perlu memperhatikan source of influence yang kedua, yaitu ability. Percuma jika motivasi karyawan sudah tinggi, tetapi ability masih rendah. Perusahaan perlu untuk mengadakan training atau pelatihan bagi peningkatkan kualitas kompetensi. Jika didukung oleh motivasi dan ability maka perubahan akan lebih mudah untuk dilakukan.

Lalu jika sudah ada motivasi dan ability apakah sudah cukup untuk dapat merubah perilaku? Jika motivasi dan ability sudah bagus tetapi lingkungan masih tidak mendukung, maka upaya perubahan akan percuma. Kita bisa contohkan dimana seorang karyawan ingin berhenti merokok tetapi di dalam lingkungan pekerjaan sehari-hari dia bergaul dengan teman-teman perokok. JIka demikian, perubahan yang diinginkan sulit atau tidak akan terjadi. Tidak ada tekanan buat dia untuk dapat berubah. Contoh lain adalah seorang karyawan yang ingin mencoba untuk lebih rajin di kantor dengan bekerja lebih lama untuk menyelesaikan tugas, tetapi jika teman-teman di sebelahnya mencemooh atau menyindirnya, “Buat apa kita jadi lebih rajin, toh gaji kita segini-segini juga”, maka karyawan tadi akan sulit untuk berubah.

Jadi setelah motivasi dan ability perlu adanya source of influence yang ketiga yaitu peer pressure, yaitu ‘tekanan’ dari teman sejawat. Maksud dari tekanan ini adalah tekanan untuk berubah menjadi sesuatu yang positif dari teman-temannya mendorong atau menekan atau mengingatkan agar dia berubah untuk menjadi lebih baik

Kita bisa ambil contoh cerita tentang seorang nelayan yang mendapatkan masalah akan ikan tangkapannya yang selalu dianggap tidak segar ketika dijual di pasar ikan. Nelayan tersebut awalnya menduga jika ikan didinginkan, daging ikan tangkapannya akan menjadi lebih segar. Lalu dia membeli lemari es yang disimpan di perahu nya. Setiap ikan hasil tangkapannya ditaruh di lemari es tersebut agar lebih segar. Tetapi pada kenyataannya ketika ikan-ikan tersebut dijual di pasar ikan, hasil tangkapan tersebut masih dianggap kurang segar. Setelah berpikir dan bertanya kesana kemari nelayan tersebut datang dengan solusi bahwa ikan hasil tangkapannya diberi garam agar lebih awet dan segar. Lagi-lagi perkiraannya salah. Lalu bagaimana solusinya? Ternyata solusinya adalah ikan ikan hasil tangkapan dari nelayan tadi dibiarkan hidup di perahu, lalu dilepaskanlah beberapa bayi hiu. Bayi ikan hiu tersebut akan mengejar-ngejar hasil tangkapan tadi sehingga ikan terus menerus bergerak dikejar kesana kemari. Hasilnya adalah daging dari ikan hasil tangkapan tersebut terasa lebih segar dan lebih padat. Pastinya bayi ikan hiu akan menggigit beberapa ikan dan mati, tetapi untuk mendapatkan daging yang segar, cara tersebut layak dilakukan.

Setelah mendapatkan motivasi, ability dan peer pressure dari teman sejawat, apakah sudah cukup untuk dapat membuat perubahan? Support dari manajemen atau bantuan dari teman-teman sekerja, sebagai source of influence keempat, sangat berpegaruh.  Misalnya saja seorang karyawan yang sedang membutuhkan materi presentasi, tidak menerima dari temannya (padahal sudah diminta), atau ketika karyawan membutuhkan pertolongan, tidak ada yang bersedia membantu, dan sebagainya. Di tahap ini kita dituntut untuk dapat bekerja di dalam tim.
 
Source of influence kelima adalah reward dan punishment. Seperti disebutkan di atas, reward dan punishment dianggap sebagai satu-satunya faktor penentu dalam perubahan padahal ada beberapa hal lagi yang penting.  Source of influence yang terakhir adalah change the environment. Kadang untuk membuat sebuah perubahan yang permanen, kita perlu untuk merubah tampilan fisik. Tujuannya agar kita benar-benar merasa telah berubah. Di beberapa perusahaan layout kantor yang lebih open atau terbuka memberikan suasana yang friendly terhadap millenials. Kolaborasi akan jauh lebih mudah. Fasilitas yang lebih lengkap dalam  infrastruktur teknologi informasi juga sangat membantu dalam upaya perubahan.
Demikian sekilas mengenai source of influence yang sangat membantu dalam program change management di perusahaan.